Fun Bike Batik Kroma di Angkor Wat menarik 35 peserta

Negara kamboja – Fun Bike Batik Kroma yang pertama diadakan di Angkor Wat kemarin pagi oleh KBRI menarik 35 pengendara.
Para pengendara dipimpin oleh Duta Besar Sudirman Haseng dari Indonesia, Menteri Luar Negeri Menteri Pariwisata Pak Sokhom, Kementerian Kerjasama Internasional dan Penasehat dan Direktur Asean Try Chhiv dan pengendara yang terdiri dari staf KBRI dan pengendara Kamboja.

Perjalanan menyenangkan ini menempuh jarak lebih dari 27 kilometer dan seorang pengendara dari Tim Bersepeda Kamboja memberikan pengarahan menyeluruh kepada semua pengendara tentang teknik menggunakan sepeda jalan dan pentingnya mengikuti pengendaraan yang aman serta berbagai isyarat tangan dan menjaga jarak dari satu pengendara dan lain.
Duta Besar Sudirman mengatakan bahwa Indonesia dan Kamboja telah menjadi teman dekat dan sekutu tradisional dan merupakan pendiri bersama Gerakan Non-Blok.

“Kami ingin mempertahankan dan meningkatkan hubungan persaudaraan yang erat ini ke tingkat yang lebih tinggi dan memiliki lebih banyak pertukaran orang-ke-orang selain pertukaran budaya dan teknis setelah ancaman Covid dikendalikan,” katanya.
“Kami berterima kasih atas persetujuan yang diberikan oleh Otoritas Apsara, Otoritas Provinsi Siem Reap, Kementerian Pariwisata dan Federasi Bersepeda Kamboja atas semua dukungan mereka, yang tanpanya perjalanan ini tidak akan mungkin terjadi. Ini menunjukkan kegiatan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak dan ini hanya dapat ditingkatkan di waktu-waktu mendatang,” kata Dubes Sudirman.

Perjalanan hampir tiga jam hanya mengalami sedikit guncangan, tetapi dipenuhi dengan kesenangan dan tawa, seperti yang seharusnya dan seperti yang diinstruksikan oleh instruktur perjalanan untuk memastikan keselamatan semua orang.

Sokhom mengatakan bahwa perjalanan itu juga memungkinkan teman-teman Indonesia untuk lebih memahami budaya Kamboja dan juga sejarah masa lalu Angkor Wat dan candi-candi lainnya, kondisi kehidupan dulu dan sekarang.
“Perjalanan itu di jalan beraspal, tanah, berpasir dan kasar untuk menggambarkan seperti apa kehidupan ketika monumen-monumen besar dibangun oleh nenek moyang kita berabad-abad yang lalu. Juga untuk mempromosikan pariwisata melalui bersepeda karena Angkor Wat dipenuhi pengendara sepeda setiap pagi dengan bebas dan aman karena kendaraan dilarang untuk memastikan keselamatan mereka dan juga untuk melindungi lingkungan.

“Kami berharap teman-teman Indonesia dapat menularkan pengalaman yang mereka miliki kepada keluarga dan teman-teman mereka di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran akan cara lain menikmati peninggalan dan candi Angkor dan bukan hanya dengan berjalan kaki,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *